web 2.0

strategi penangulangan flu burung bagian 2

lanjutan artikel tentang 8 cara trategi pengendalian flu burung

4. Pengawasan lalu- lintas

pengawasan lalu lintas itik dan produknya mengacu pada SOP pengendalian Ai yang di lakukan oleh dinas peternakan setempat dan cek poin antar daerah, di wajibkan utuk melampirkan uji PCR dengan hasil negatif AI, karna Pedoman Uji Laborat PCR sebagai syarat Lalu Lintas itik Dewasa  dan  DOD

5. survelinas

kegiatan untuk mengumpulkan data, yang biasa di lakukan oleh pemerintah / dinas peternakan terkait. dengan tujuan untuk memantau dan memberi tanggapan yang relevan pada suatu kasus di peternakan , dalam hal ini kasus AI / Flu burung

6. Rekontruksi Perunggasan

masalah utama yang menyebabkan sulitya penangulangan kasuk flu burung adalah adanya usaha peternkan sekala non komersial di lokasi yang menyebar hingga keberadaan sulit di kontrol, mulai dari pengawasan tempat pemotongan , pasar, serta lalu lintas unggas dan produknya yang masi menjadi kendala utama

rekontruksi perunggasan mencakup aspek yang sangat luas, tak hanya menyangkut aspek pengendalian penyakit , termasuk flu burung, tapi aspek penyediaan lapangan pekerjaan, peningkatan pendapatan, keamanan dan ketahanan pangan, peningkatan mutu dan daya saing produk peternakan

7. Public awarnes

penyakit flu burung pada itik mempunyai dampak yang sangat serius secara lintas sektoral, sehingga menimbulkan kepanikan sebagian masyarakat, maka dari itu di butuhkan penyampaian informasi yangseimbang pada masyarakat dan pelaku pasar

berikut beberapa kegiatan yang dapat di lakukan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengendalian flu bururng
-melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai dampak yang di timbulkan oleh penyakit Flu burung

-mengandakan program pendidikan pada masyarakat melalui seminar atau pertemuan yang di lakukan dengen bekerjasama dengan pelaku industri peternakan

strategi pengendalian flu burung pada itik

untuk menekan tingkat kematian pada itik yang sangat tinggi akibat terserang virus Ai H5n1 varian 2.3.2, di perlukan strategi pengendalian yang mumpuni
berikut 8 strategi pengendalian Ai pada itik

1.biosecuriti

biosecuriti bertujuan untuk mencegah masuknya mikro organisme penyebab penyakit ke dalam peternakan, sebaiknya biosecuriti di lakukan di beberapa tempat utama dalam peternakan

- pintu gerbang
- kandang bagian dalam
- tempat penetasan
- tempat pemotongan

pembatasan lalulintas  terhadap pekerja dan kendaraan, serta pembersihan dan desinfeksi terhadap kandang dan peralatan kandang

2. Depopulasi

depopulasi merupakan pemusnahan terbatas terhadap itik sakit dan itik yang sekandang ( kontak langsung ) dengan itik yang sakit dan menjadi sumber penularan penyakit, pemusnahan ini di lakukan dengan cara menyembelih semua itik sakit dan sehat sesuai dengan prosedur pemotongan yang berlaku, itik yang di sembelih bisa langsung din kubur denga kedalaman -+ 1,5m atau bisa juga dengan di bakar

3.vaksinasi

dengan mengunakan vaksin Ai varian 2.1.3 cukup evektif menangulangi serangan flu burung pada itik
pada beberapa pengujian setelah din vaksin kematian menjadi berkurang denga kematian  sebesar 5-10 %
padahal sebelum vaksin tingkat kematian mencapai 40%

Gejala flu burung pada itik

berdasar pengamatan yang di lakukan balai besar peternakan yogyakarta, itik yang terserang flu burung akan menunjukan beberapagejala klinis syaraf,

berikut gejala klinis syaraf yang terjadi pada itik terserang flu burung

1. tortikolis ( leher berputar )
2. kejang - kejang
3. inkoordinasi
4. Kesulitan Berdiri
5. Kehilangan Keseimbangan ketika jalan
6. Nafsu makan turun
7. Mata putihan
8. Kematian mendadak pada kasus ini cukup parah

itik muda yang terserang akan menunjukan tingkat kematian yang tinggi di banding dengan itik dewasa ( baya / siap telur ) serangan pada itik yang sudah berproduksi dapat menyebabkan penurunan produksi.