web 2.0
Berikut ini adalah Produk DOD yang di keluarkan oleh SENTRA ITIK
Dan merupaka Produk unggulan untuk daerah kami


1. Itik Mojosari

Ibarat pepatah “tak kenal maka tak sayang” itulah yang menjadi inspirasi kami untuk menulis artikel ini. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mengenalkan jenis itik lokal kepada masyarakat karena kebanyakan masyarakat kita masih belum mengetahui jenis-jenis itik lokal type petelur. Yang mereka tahu kalau itik coklat yang berdirinya seperti botol maka itu jenis itik petelur (ada yang menyebutnya bebek wek). Maka, pada kesempatan kali ini kami ingin memperkenalkan kepada pembaca sekalian salah satu jenis itik lokal petelur unggul yaitu itik mojosari.


2. Itik Hibrida

Bebek hibrida merupakan bebek hasil kawin silang . dua jenis bebek yang bertujuan mendapatkan keturunan yang mewarisi sifat baik dari indukan jantan dan betinanya. Peni Hardjosworo, Pakar Bebek IPB mengatakan, semakin jauh jarak asal bebek yang dikawinsilangkan, maka hasilnya semakin bagus. Contoh sederhana, yakni indukan betina bebek Alabio (asal Kalimantan Selatan) dikawinsilangkan dengan pejantan bebek Mojosari (asal Jawa Timur). Hasilnya lebih bagus dari pada bebek Cirebon yang dikawinkan dengan bebek Tasikmalaya. Selain bebek hibrida hasil perkawinan bebek Mojosari dengan Alabio, saat ini juga dikenal bebek hibrida hasil perkawinan bebek Mojosari (asal Jawa Timur) dengan bebek Peking (asal China). “Masih banyak bebek lainnya yang bisa dijadikan bebek hibrida, asal jarak keduanya jauh,” tambah Petani


3. Itik Peking

Itik peking merupakan jenis itik import, yang mempunyai berat badan paling tinggi diantara jenis itik lokal yang berkembang di Indonesia. Itik peking mempunyai bulu berwarna putih dengan kondisi paruh dan kaki berwarna kuning, bentuk tubuh yang sangat besar sehingga mudah dibedakan dengan jenis lokal yang berwarna putih. Dewasa ini sudah menjadi trend di kalangan peternak untuk memelihara itik peking, disamping mempunyai pertumbuhan berat yang sangat cepat, juga mempunyai warna dan bentuk tubuh yang khas. Seekor itik peking bisa mencapai 4,5 kg sampai dengan 5 kg pada umur 10 minggu, pada usia 50 hari itik peking sudah bisa mencapai bobot rata- rata 3,25 kg. Hal ini wajar karena itik peking memang dikenal rakus, oleh karena itu biaya pakan seekor itik peking selama 50 hari dalam pemeliharaan bisa mencapai Rp 25 ribu sampai 35 ribu (tergantung harga pakan setempat). Itik peking mempunyai tekstur daging yang lembut dan berwarna kekuningan, biasanya hanya restauran atau rumah makan tertentu yang menyajikan menu daging itik peking, artinya tidak sembarang rumah makan mempunyai menu tersebut, lazimnya dipasaran daging itik peking dihargai Rp 20 ribu sampai 25 ribu per kg nya. Karena tidak semua rumah makan menyajikan menu tersebut sehingga menyebabkan pemasaran itik peking hidup tidak semudah jenis itik lokal, yang hampir setiap warung, sampai rumah makan bahkan hotel terdapat menu tersebut